Sisi Edukatif, Sosial, dan Agama dalam Film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”
Film “Alangkah Lucunya Negeri Ini” berkisah tentang seorang pemuda
yang bernama Muluk, lulusan strata-1 manajemen yang susah mencari
pekerjaan di negerinya sendiri. Oleh sebeab itu, ia hendak beternak
cacing. Namun, niat itu dibatalkan karena haram. Pada suatu kesempatan,
ia bertemu dengan seorang pencopet cilik yang melakukan aksinya dipasar,
namun ia tak menangkap pencopet itu malah sebaliknya, memanfaatkan
pencopet itu untuk dijadikan ladang bisnis. Para pencopet bekerja sesuai
dengan porsinya, dan setiap hasil yang di dapat akan di sisihkan 10%
untuk dirinya dan ditabung. Di situ, pemuda ini melihat peluang, akan
mengembangkan sumber daya “pencopet” menjadi tidak mencopet lagi dan
akhirnya bekerja sebagai asongan.
Pelajaran yang dapat diambil dari film ini adalah bahwa pendidikan suatu
bangsa itu penting. Dimana dalam proses pendidikan didapat berbagai
pelajaran dan ilmu– ilmu yang tak di peroleh di manapuin, selain
dibangku sekolah. Oleh karenanya, dalam film ini disebutkan pendidikan
adalah suatu proses melompat. Artinya,dimana yang asalnya tidak tahu,
menjadi tahu, yang tak mengerti menjadi mengerti, yang asalnya tak
pandai menjadi pandai. Lihat, Jepang negara yang hancur tahun 1945
karena di bom atom oleh Amerika, mampu bangkit dan menjadi negara maju
sekarang karena pendidikan mereka yang berjalan dengan baik. Namun,
lihat Indonesia pada tahun yang sama,1945, Indonesia merdeka dan hingga
dulu sampai sekarang. Enam puluh enam tahun lamanya negara indonesia
masih menjadi negara berkembang, pasti ada sesuatu yang salah dalam
sistem pendidikan Indonesia selama ini. Banyak kritik yang disampaikan
dalam film ini, khususnya tentang pendidikan negeri ini seperti sebagai
berikut.
1) Pendidikan itu tidak penting.
Begitu menurut haji Sarbinni ayah calon mertua dari Muluk, dan asumsi dua ratus tiga juta penduduk Indonesia yang tidak berpendidikan saat ini. Menurutnya lebih baik setelah lulus Madrasah atau pesantren lebih baik langsung kerja di kios-kios atau berjualan di pasar, karena menurutnya yang penting seseorang dapat bekerja, berpenghasilan dan dapat naik haji.
2) Banyaknya pengangguran.
Semua tokoh utama dalam film ini adalah pengangguran. Karena memang tak ada pekerjaan yang layak bagi mereka. Seperti; tokoh utama, Muluk yang lulusan manajemen tak diterima diberbagai perusahaan, akhirnya mengajar dan mengatur para pencopet. Majid, seorang lulusan sarjana pendidikann yang kerjaannya main gaple tiap hari, diajak Muluk untuk mengajar di sekolah para pencopet. Sedangkan Leha yang kerjaannya mengikuti kuis-kuis berhadiah tiap harinya juga diajak Muluk untuk mengajar. Tidak dipungkiri karena susahnya mencari lapangan pekerjaan dewasa ini, dan juga karena kurangnya lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah. Mengakibatkan semakin membengkaknya angka pengangguran setiap tahunnya di negeri ini.
3) Korupsi dihasilkan dari proses pendidikan yang salah
Dalam suatu adegan dalam film ini dijelaskan, bahwa jika kalian tidak sekolah dan tidak berpendidikan, maka kalian hanya bisa jadi pencopet. Namun, lihat koruptor mereka semua orang berpendidikan tinggi, punya uang banyak, dan berkecukupan tapi tetap tidak puas. Artinya, jelas lihat koruptor dinegeri ini, semakin mereka berpendidikan tinggi semakin banyak uang yang mereka korupsi. Lihat, Gayus Tambunan, Melinda Dee, Nazarudin, dan Nunun, mereka semua orang yang sudah mapan dari segi material dan tentunya berpendidikan tinggi, namun tetap juga sifat tak pernah puas mereka masih lebih kuat daripada sifat suka memberinya. Dimana pelajaran moral dan pancasila yang mereka pelajari sejak kecil waktu SD, mungkin sudah lupa bahwa mencuri itu adalah perbuatan yang tidak baik, mungkin mereka lupa memakan uang rakyat itu perbuatan yang haram dan dilaknat oleh Allah swt.
4) Masih mahalnya biaya sekolah
Dalam film ini salah satua alasan mereka menjadi pencopet ialah masih mahalnya biaya sekolah. Meskipun ada pencopet yang berbaju SMP, namun itu hanya sebagai kamuflase ketika mencopet di bus-bus umum, maupun sekolah. Inilah masalah klasik mulai dahulu hingga sekarang dalam pendidikan Indonesia. Walau pemerintah sudah berusaha membantu siswa yang kurang mampu melalu BOS (Biaya Operasional Sekolah), tak dapat dipungkiri masih banyak biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk masuk sekolah oleh wali murid. Oleh itulah, orang-orang yang sudah miskin dia tak akan pernah mau menyekolahkan anaknya.
5) Minimnya Tenaga pendidik yang handal
Terbukti dengan berakhirnya film ini, Majid yang seorang lulusan sarjana pendidikan kembali frustasi dan bermain gaple lagi bersama teman-temannya. Tenaga pendidik di Indonesia lebih terpusat dikota-kota besar, namun tak ada yang mau untuk mengajar di daerah-daerah pedalaman ataupun pesisir atau di daerah pegunungan. Kriteria tenaga pendidik yang handal, bukan hanya dedikasi berapa lama seorang pendidik mengajar? namun seberapa banyak dia menciptakan murid yang bermutu handal.
2. Sisi Sosial dalam film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”
Diawal film terlihat bahwa masih kentalnya sikap mempercayai pada benda-benda mistik/ jimat yang di jual di pasar-pasar kaki lima pada kehidupan bermasyarakat. Ini menunjukan masyarakatt Indonesia yang tak intelek, dan tak berpikir logis sebab masih berpikir dan mempercayai pada takhayul dan makhluk-makhluk halus. Lalu, masih maraknya kehidupan sosial yang tak seimbang antara yang miskin tetap miskin dan yang kaya akan terus kaya. Terbukti dengan kesenjangan sosial, antara para pencopet dan para koruptor.
Ada sesuatu yang menggelitik dalam film ini, ketika si Ribut, salah satu pencopet bertanya saat meamandang gedung DPR. “Itu gedung wakil rakyat”, jelas bang Muluk. “ Gedung wakil copet ada nggak ya?” tanya Ribut. “ Ada nggak ya?” kata teman-temannya. Sungguh suatu pernyataan menyinggung wakil rakyat, walau adegan ini hanya sebentar namun dari situ bermakna bahwa gedung DPR yang meupakan gedung wakil rakyat, sebenarnya tak lain adalah tempat di mana para koruptor bermukim dan bersembunyi. Memang suatu keadaan yang ironis, di tengah keadaan masyarakat dewasa ini.
3. Sisi Agama dalam film “Alangkah Lucunya negeri Ini”
Film ini memberi banyak hikmah dan renungan-renungan bahwa segala sesuatu harus didasari oleh agama. Namun , bagaimana caranya belajar ilmu agama Islam? disini anak-anak diajari sholat dan mengaji. Bahwasanya sejelek-jeleknya orang, dalam film ini para pencopet pun, tetap saja harus saja diisi oleh Leha ilmu agama. Karena tetap hanya agamalah yang bisa merubah akhlak manusia menjadi lebih baik. Lihat para pencopet, yang mau mandi ketika hanya hujan tiba, setelah diajari hadist bahwa “kebersihan adalah sebagian dari iman”. Anak-anak mulai mau dimandikan dan dibersihkan. Ada doa dan harapan yang besar dalam film ini. Pada saat mereka menyanyikan bersama-sama lagu nasional dan kebangsaan setiap upacara senin pagi. Pada bait terakhir lagu indonesia raya pengharapan akan kembalinya Indonesia ke jalan yang sejahtera, hiduplah indonesia raya? Amin :)
1) Pendidikan itu tidak penting.
Begitu menurut haji Sarbinni ayah calon mertua dari Muluk, dan asumsi dua ratus tiga juta penduduk Indonesia yang tidak berpendidikan saat ini. Menurutnya lebih baik setelah lulus Madrasah atau pesantren lebih baik langsung kerja di kios-kios atau berjualan di pasar, karena menurutnya yang penting seseorang dapat bekerja, berpenghasilan dan dapat naik haji.
2) Banyaknya pengangguran.
Semua tokoh utama dalam film ini adalah pengangguran. Karena memang tak ada pekerjaan yang layak bagi mereka. Seperti; tokoh utama, Muluk yang lulusan manajemen tak diterima diberbagai perusahaan, akhirnya mengajar dan mengatur para pencopet. Majid, seorang lulusan sarjana pendidikann yang kerjaannya main gaple tiap hari, diajak Muluk untuk mengajar di sekolah para pencopet. Sedangkan Leha yang kerjaannya mengikuti kuis-kuis berhadiah tiap harinya juga diajak Muluk untuk mengajar. Tidak dipungkiri karena susahnya mencari lapangan pekerjaan dewasa ini, dan juga karena kurangnya lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah. Mengakibatkan semakin membengkaknya angka pengangguran setiap tahunnya di negeri ini.
3) Korupsi dihasilkan dari proses pendidikan yang salah
Dalam suatu adegan dalam film ini dijelaskan, bahwa jika kalian tidak sekolah dan tidak berpendidikan, maka kalian hanya bisa jadi pencopet. Namun, lihat koruptor mereka semua orang berpendidikan tinggi, punya uang banyak, dan berkecukupan tapi tetap tidak puas. Artinya, jelas lihat koruptor dinegeri ini, semakin mereka berpendidikan tinggi semakin banyak uang yang mereka korupsi. Lihat, Gayus Tambunan, Melinda Dee, Nazarudin, dan Nunun, mereka semua orang yang sudah mapan dari segi material dan tentunya berpendidikan tinggi, namun tetap juga sifat tak pernah puas mereka masih lebih kuat daripada sifat suka memberinya. Dimana pelajaran moral dan pancasila yang mereka pelajari sejak kecil waktu SD, mungkin sudah lupa bahwa mencuri itu adalah perbuatan yang tidak baik, mungkin mereka lupa memakan uang rakyat itu perbuatan yang haram dan dilaknat oleh Allah swt.
4) Masih mahalnya biaya sekolah
Dalam film ini salah satua alasan mereka menjadi pencopet ialah masih mahalnya biaya sekolah. Meskipun ada pencopet yang berbaju SMP, namun itu hanya sebagai kamuflase ketika mencopet di bus-bus umum, maupun sekolah. Inilah masalah klasik mulai dahulu hingga sekarang dalam pendidikan Indonesia. Walau pemerintah sudah berusaha membantu siswa yang kurang mampu melalu BOS (Biaya Operasional Sekolah), tak dapat dipungkiri masih banyak biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk masuk sekolah oleh wali murid. Oleh itulah, orang-orang yang sudah miskin dia tak akan pernah mau menyekolahkan anaknya.
5) Minimnya Tenaga pendidik yang handal
Terbukti dengan berakhirnya film ini, Majid yang seorang lulusan sarjana pendidikan kembali frustasi dan bermain gaple lagi bersama teman-temannya. Tenaga pendidik di Indonesia lebih terpusat dikota-kota besar, namun tak ada yang mau untuk mengajar di daerah-daerah pedalaman ataupun pesisir atau di daerah pegunungan. Kriteria tenaga pendidik yang handal, bukan hanya dedikasi berapa lama seorang pendidik mengajar? namun seberapa banyak dia menciptakan murid yang bermutu handal.
2. Sisi Sosial dalam film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”
Diawal film terlihat bahwa masih kentalnya sikap mempercayai pada benda-benda mistik/ jimat yang di jual di pasar-pasar kaki lima pada kehidupan bermasyarakat. Ini menunjukan masyarakatt Indonesia yang tak intelek, dan tak berpikir logis sebab masih berpikir dan mempercayai pada takhayul dan makhluk-makhluk halus. Lalu, masih maraknya kehidupan sosial yang tak seimbang antara yang miskin tetap miskin dan yang kaya akan terus kaya. Terbukti dengan kesenjangan sosial, antara para pencopet dan para koruptor.
Ada sesuatu yang menggelitik dalam film ini, ketika si Ribut, salah satu pencopet bertanya saat meamandang gedung DPR. “Itu gedung wakil rakyat”, jelas bang Muluk. “ Gedung wakil copet ada nggak ya?” tanya Ribut. “ Ada nggak ya?” kata teman-temannya. Sungguh suatu pernyataan menyinggung wakil rakyat, walau adegan ini hanya sebentar namun dari situ bermakna bahwa gedung DPR yang meupakan gedung wakil rakyat, sebenarnya tak lain adalah tempat di mana para koruptor bermukim dan bersembunyi. Memang suatu keadaan yang ironis, di tengah keadaan masyarakat dewasa ini.
3. Sisi Agama dalam film “Alangkah Lucunya negeri Ini”
Film ini memberi banyak hikmah dan renungan-renungan bahwa segala sesuatu harus didasari oleh agama. Namun , bagaimana caranya belajar ilmu agama Islam? disini anak-anak diajari sholat dan mengaji. Bahwasanya sejelek-jeleknya orang, dalam film ini para pencopet pun, tetap saja harus saja diisi oleh Leha ilmu agama. Karena tetap hanya agamalah yang bisa merubah akhlak manusia menjadi lebih baik. Lihat para pencopet, yang mau mandi ketika hanya hujan tiba, setelah diajari hadist bahwa “kebersihan adalah sebagian dari iman”. Anak-anak mulai mau dimandikan dan dibersihkan. Ada doa dan harapan yang besar dalam film ini. Pada saat mereka menyanyikan bersama-sama lagu nasional dan kebangsaan setiap upacara senin pagi. Pada bait terakhir lagu indonesia raya pengharapan akan kembalinya Indonesia ke jalan yang sejahtera, hiduplah indonesia raya? Amin :)

