Review Jurnal

“PANDANGAN ANAK BERMASALAH TERHADAP NILAI MORAL”
Judul Asli: Three Children with Emotional and Behavioral Disorders Tell Why People Do Right (Elizabeth L. Hardman, University of Florida)

      I.            PENDAHULUAN 
Laporan hasil studi kasus Elizabeth L. Hardman dari University of Florida dalam International Journal of Special Education tahun 2011 termasuk dalam kajian psikologi pendidikan yang terkait dengan anak yang berkebutuhan khusus atau kategori pendidikan inklusif. Penelitian diarahkan pada psikologi kognitif sosial yang mengacu pada tahapan perkembangan kognitif dalam memahami nilai-nilai moral dan berhubungan dengan hambatan perkembangan anak bermasalah.
Dalam tulisannya, Hardman berupaya mengungkap kejelasan tahapan usia perkembangan seorang anak mampu memilah perilaku baik dan buruk atau benar dan salah yang diterima dari lingkungannya seperti yang dicontohkan oleh Piaget dan para peneliti psikologi. Hardman kemudian mengarahkan alur penelitiannya terhadap perkembangan nilai kerjasama pada anak-anak atau siswa yang mengalami gangguan emosi dan perilaku atau Emotional and Behavioral Disorder (EBD) berdasarkan pola pertimbangan mereka yang menurutnya belum banyak dikaji oleh peneliti lain sebelumnya.
Penelitian yang dilakukan Hardman tentang tahap perkembangan pemahaman nilai moral dengan kekhususan pada anak EBD masih terbatas pada kasus longitudinal, ini dikarenakan kasus-kasus anak EBD mungkin saja berbeda dengan kasus-kasus anak EBD dinegara lain. Dalam pengolahan data kualitatif terlkihat sangat analitik dan detail terutama kemampuannya menangkap dan memilah kategori nilai moral yang disampaikan oleh anak EBD.

   II.            RINGKASAN
A.    Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan hubungan antara tindakan dan konsekuensinya dari pemahamahan anak-anak EBD. Selain itu yang menjadi tujuan utama dari penelitian yang dilakukan Hardman  adalah untuk mengetahui bagaimana pandangan anak-anak yang bermasalah terhadap nilai moral. Penelitian ini juga bertujuan mendeskripsikan orientasi moral dan mengeksplorasi pola pertimbangan mereka terhadap nilai kerjasama sebagai bagian dari nilai sosial.
Adapan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.    Bagaimana perkembangan penilaian moral pada anak?
2.    Apa yang menjadi dasar perkembangan orientasi moral pada ketiga anak EBD yang diteliti oleh Hardman?
3.    Apakah anak-anak selalu menilai berdasarkan aturan normatif atau orientasi moral egosentris?

B.     Tinjauan Pustaka
Perkembangan Penilaian Moral
Pengertian nilai moral yang digunakan oleh Hardman dikutip dari Dewey sebagai upaya serius yang dilakukan untuk menemukan hubungan antara tindakan dan konsekuensinya. Asumsi bahwa realitas moral juga dibangun dengan cara yang sama, Hardman mencontohkan hasil penelitian Piaget tentang perkembangan penilaian moral dengan mengeksplorasi pengaruh pengalaman dan pemikiran terhadap persepsi anak yang memperlihatkan hubungan tindakan dan konsekuensinya. Hasilnya menunjukkan bahwa penerapan aturan berkembang dalam 4 tahapan, yaitu sensorimotor, egosentrik, kerjasama, dan kodifikasi; namun kesadaran tanggung jawab berkembang dalam 3 tahapan, yaitu non-moral, heteronomi, dan otonomi. Meskipun perkembangan tersebut berbeda antaranak, namun secara umum diakuinya bahwa urut-urutannya relatif seragam dan universal. Pembahasan ini berlanjut dengan pemaparan hasil-hasil penelitian serupa dari berbagai negara untuk menunjukkan universalitas temuan.

Nilai-Nilai pada Anak dan Perkembangan Kerjasama
Perkembangan orientasi moral yang ditemukan Hardman pada ketiga anak EBD tercermin dari pemahaman tentang aturan yang telah disepakati. Struktur kognitif yang mendukung perkembangan kerjasama umumnya muncul di usia 5 tahun dan mencapai puncak perkembangannya menjelang usia 9 atau 10 tahun kecuali pada kasus anak-anak yang berstatus ekonomi lemah atau menunjukkan perilaku antisosial yang serius. Banyak penelitian menemukan bahwa perkembangan kerjasama akan beragam dan dalam kasus-kasus tertentu tidak berkembang sama sekali dengan asumsi bahwa apa saja yang menghalangi peluang anak belajar berpartisipasi dalam masyarakat akan memperlambat perkembangan kerjasama mereka dan bahkan menghambat munculnya perilaku otonomi di masa remajanya. Anak-anak EBD dalam penelitian ini berusia antara 9 s.d. 12 tahun dengan karakteristik tertentu. Hasil wawancara menunjukkan bahwa 90% dari 375 penilaian mengacu pada aturan normatif dan hanya 10% sisanya mengacu pada kerjasama. Henry dan Jessie dalam kasus ini cenderung patuh karena menghindari hukuman dan Violet konsisten dengan orientasi solidaritas dan pujian.

Anak-anak tidak selalu menilai berdasarkan aturan normatif atau orientasi moral egosentris.
Fakta menunjukkan bahwa 10% penilaian mereka lebih mengarah pada orientasi kerjasama dan konsep pertemanan atau solidaritas merupakan pilihan nilai mereka. Benar atau salah, orang akan menanggung beban dan menikmati keuntungan secara bersama-sama. Dalam hal ini, Hardman mengutip beberapa pandangan ahli dan salah satunya adalah pandangan Piaget (1932/1965) yang mengidentifikasi solidaritas sebagai fenomena kognitif yang penting dalam perkembangan moral kemandirian dengan syarat memahami aturan dalam kesepakatan. Perilaku anak pada dasarnya sulit ditebak meskipun mereka tahu benar dan salah atau mampu menerapkan aturan perilaku sosial yang pantas. Hal ini menurutnya tidak pantas membenarkan bahwa perilaku dan penilaian tidak berkaitan tetapi hanya menjelaskan bahwa hubungan ini dimediasi oleh konteks sosial itu sendiri (dikutip oleh Hardman dari Damon, 1988).

C.    Metode Penelitian
1.        Teknik Penelitian
Teknik Penelitian ini menggunakan teknik kualitatif. Hardman melakukan pendekatan penelitian kepada tiga orang anak EBD. Penelitian dilakukan dengan studi kasus yang menggunakan teknik wawancara dilema moral yang melibatkan 3 anak EBD atau yang mengalami masalah kontrolemosi dan perilaku di salah satu SD di Florida, Amerika
2.        Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SD kelas 3, 4, dan 5; 2 laki-laki dan 1 perempuan, dan beberapa karakteristik lain yang juga dijelaskan secara panjang lebar dalam tulisan Hardman.
3.        Pengumpulan Data
Data dikumpulkan menggunakan pedoman wawancara disertai dengan skenario (model tanya jawab antara peneliti dan subyek) yang menyajikan 12 kisah yang mengandung dilema moral hipotetik (garis antara yang benar dan yang salah sengaja dibuat kabur), dipilih dari berbagai sumber yang sangat populer di kalangan anak-anak Amerika, dan beberapa pertimbangan lainnya.
4.        Prosedur Penelitian
Wawancara  berlangsung ±30 menit per anak dan di akhir wawancara, ketiganya dihadiahi buku cerita Boxcar Children. Wawancara direkam dan ditranskripsi lalu dikoding yang menghasilkan 130 lembar data. Kode-kode yang digunakan berupa singkatan-singkatan dengan kategori tertentu yang diisi berdasarkan respons verbal anak.
5.        Teknik Analisis Data
Validitas dan reliabilitas temuan dilakukan dengan cara-cara yang khas dalam penelitian kualitatif. Teknik analisis data dari metode kualitatif ini antara lain, memahami makna dibalik data yang tampak karna setiap ucapan dan perilaku orang memiliki makna tertentu, oleh karena itu dilakukan wawancara mendalam dan obsevasi dan dokumentasi. Dalam penelitian Hardman ini dia melakukan dokumentasi dengan cara merekamnya. Selain itu teknik analisis lainnya dengan cara mengembangkan teori yaitu dengan membangun data-data yang diperoleh dilapangan, Hardman mengembangkan teoti-teori psikologi perkembangan, contohnya adalah teori kognitif Piaget.
 
D.    Hasil Penelitian
Analis data secara umum menunjukkan bahwa anak-anak memahami elemen dasar plot, karakter, dan latar yang disajikan di setiap cerita sebelum mereka diminta mengemukakan isu-isu moral yang dikandungnya. Henry agak kesulitan mengingat nama tokoh dalam cerita pada 3 cerita dilema Piaget di kesempatan pertama tapi setelah diulangi, Henry berhasil mengingatnya kembali. Setelah 9 kali wawancara, hasil menunjukkan bahwa informan memilih 36 pilihan isu dari 12 dilema yang terurai menjadi 375 jenis penilaian moral, baik berupa norma maupun elemen moral.
Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pemahaman hubungan antara perilaku dan penilaian tidak mungkin terlaksana tanpa terlebih dahulu menerima tantangan dalam memadukan kedua pandangan yang berbeda dalam perkembangan anak. Di satu sisi, fokus pada perubahan perilaku dan di sisi lain berfokus pada transformasi kognitif. Penelitian ini menurutnya hanya langkah awal untuk memahami nilai moral dari perspektif anak EBD. Jika dilanjutkan, masyarakat diharapkan mampu memahami hubungan antara penilaian dan perilaku pada anak-anak EBD untuk kemudian mengkaji ulang perlu tidaknya pendirian sekolah khusus bagi mereka sehingga setiap anak memiliki peluang yang sama untuk produktif dan dihargai oleh yang lain.
Penelitian tentang tahap perkembangan penilaian moral dilakukan secara berkelanjutan dalam berbagai konteks dan sudut pandang. Dari penelitian-penelitian tersebut, Hardman menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan persepsi di kalangan peneliti tentang tahapan perkembangan penilaian moral, namun ditemukan beberapa variabel yang dapat menghambat perkembangan penilaian moral anak seperti emosi negatif, status ekonomi, ketidakmatangan keterampilan sosial, dan perilaku antisosial. Yang menarik karena keseluruhan variabel tersebut juga terkait dengan perkembangan anak-anak EBD. Inilah yang kemudian menjadi titik tolak Hardman dalam melakukan penelitian dengan berasumsi bahwa masa kanak-kanak mewakili periode kritis perkembangan penilaian moral serta intervensi perkembangan perilaku antisosial dengan fokus utama pada perkembangan orientasi moral kerjasama selama masa itu.


E.     Pembahasan
Dalam hal penilaian moral, ketiga anak EBD menunjukkan kecenderungan memilih nilai yang berasal dari norma otoritas, hukuman, dan hukum yang mendukung pilihan isu mereka. Meskipun demikian, terdapat beberapa temuan yang menunjukkan inkonsistensi mereka terhadap pilihannya ketika diperhadapkan dengan konflik nilai dari kisah dilematis yang diceritakan. Data lengkapnya disajikan dalam bentuk tabel dan secara umum, Hardman menemukan bahwa mereka menitikberatkan pentingnya hukuman sebagai kontrol perilaku dengan alasan bahwa hukumanlah yang memberi batasan benar salahnya tindakan dan berpengaruh terhadap kepatuhan. Ketiganya berkeyakinan bahwa menghindari hukuman akan menjerumuskan orang melakukan tindakan yang tidak pantas. Hasil wawancara menunjukkan bahwa 90% dari 375 penilaian mengacu pada aturan normatif dan hanya 10% sisanya mengacu pada kerjasama. Henry dan Jessie dalam kasus ini cenderung patuh karena menghindari hukuman dan Violet konsisten dengan orientasi solidaritas dan pujian.



Referensi:
Hardman, E.L. (2011). “Three Children with Emotional and Behavioral Disorders Tell Why People Do Right”, International Journal of Special Education for Development Children, Vol 27(1), 2011. Diunduh pada tanggal 28 Desember 2013 dari www.internationalsped.com

http://www.anneahira.com/teknik-analisis-data-penelitian-kualitatif.htm diakses pukul 9:18 tanggal 28 Desember 2013